Profesi Ners

Profesi Ners


img-1433404079.jpg


GAMBARAN UMUM
 Metode yang diterapkan dalam Pendidikan Profesi Ners di STIKes Guna Bangsa Yogyakarta adalah dengan menggunakan metode pembelajaran melalui Pengalaman Belajar Klinik (PBK) dan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) secara komprehensif sehingga memiliki kemampuan profesional. Kegiatan di lahan praktik memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mampu menerapkan asuhan keperawatan yang dipelajari pada tahap pendidikan sebelumnya dengan sikap dan keterampilan profesional.Profesionalitas praktik keperawatan ditumbuhkan dan dibina melalui pemberian pengalaman dalam pengambilan keputusan klinik, yang merupakan penerapan secara terintegrasi kemampuan penalaran saintifik dan penalaran etik (Husin, 1992).Menurut Schweek and Gebbie (1996) Praktik klinik merupakan Ãâthe heart of the total curriculum planÃâ. Hal ini berarti unsur yang paling utama dalam pendidikan keperawatan adalah bagaimana proses pembelajaran dikelola di lahan praktik. Untuk itu perlu disiapkan panduan pembelajaran klinik bagi mahasiswa dan juga bagi dosen pembimbing klinik dan preseptor sehingga asuhan keperawatan yang menitikberatkan pada kualitas melalui terciptanya suatu lingkungan belajar yang sarat dengan model peran (role model) dapat diwujudkan
 
Keunggulan dari kompetensi lulusan Program Pendidikan Profesi Ners STIKes Guna Bangsa Yogyakarta sehingga membedakan dengan lulusan program studi yang sama dari institusi lain adalah sesuai dengan distribusi kurikulum yang ada, bahwa lebih menonjolkan pada kompetensi keperawatan komunitas dan penanggulangan bencana pada kondisi kegawatdaruratan. Oleh sebab itu bobot sks pada kedua kompetensi tersebut lebih besar. Selain itu sertifikat PPGD sebagai syarat yang harus dimiliki oleh calon Ners. 


PROSPEK KERJA
Beberapa profesi/bidang pekerjaan/bidang keahlian yang dapat diisi lulusan adalah sebagai berikut:
1. Bekerja di tatanan pelayanan kesehatan
Tempat praktik keperawatan di masa depan meliputi pada tatanan klinik (RS); komunitas; dan praktik mandiri di rumah/berkelompok.Kemandirian perawat dalam melaksanakan perannya sebagai suatu tantangan. Semakin meningkatnya otonomi perawat semakin tingginya tuntutan kemampuan yang yang harus dipersiapkan. Di pihak lain, belum jelasnya batas kewenangan praktik keperawatan pada setiap jenjang pendidikan merupakan suatu tantangan bagi profesi keperawatan. Berdasarkan hasil kajian penulis, hal tersebut terjadi karena belum dipahaminya atau  dikembangkannya body of  knowledge  keperawatan.Perawat  sering  dihadapkan pada suatu   dilema   karena   tidak   jelasnya   batas   kewenangan   dalam   pelaksanaan   tindakan keperawatan. Keadaan ini jelas akan berdampak terhadap peran perawat dalam peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
 
2. Bekerja di institusi pendidikan tenaga kesehatan
Dalam menunjang perkembangan dan proses profesionalisasi keperawatan Indonesia, maka diperlukan  dukungan  sumber  daya  manusia  (perawat)  yang  berkualitas.  Oleh  karena  itu institusi pendidikan akan memberikan kesempatan kepada para lulusannya, khususnya yang mempunyai kualifikasi baik, untuk bekerja sebagai staf pengajar. Bagi para lulusan yang masih mampu melanjutkan penddikan, dapat meneruskan ke Starta 2 atau spesialisasi (di Program Studi Ilmu Keperawatan) sampai dengan tingkat doktoral (S3).

3. Bekerja di luar negeri sebagai tenaga profesional
Sudah sejak 10 tahun yang lalu, kesempatan bagi para perawat untuk bekerja di luar negeri sebagai tenaga profesional dibuka.Sampai dengan saat ini, jumlah tenaga perawat yang bekerja sangat sedikit. Sedikitnya jumlah perawat yang dapat bekerja di luar negeri lebih disebabkan faktor (1) kurangnya kemampuan perawat dalam berbahasa Inggris, sehingga selalu gagal setiap mengikuti seleksi; dan (2) kurangnya motivasi perawat untuk bekerja di luar negeri, karena faktor tidak ingin jauh dengan keluarga. Kesempatan ini kalau dibiarkan akan menjadikan suatu ancaman dimana akan membawa dampak terhadap kecilnya peluang perawat Indonesia untuk bekerja di luar negeri.
 
4. Lain-lain:     swasta     atau     jalur     non-linier     lainnya     (BUMN,     industri,     klinik), legislatif/pemerintahan, dan lain-lainnya.
Berdasarkan  beberapa data yang ada, profesi perawat masih sangat diminati untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta atau BUMN, sebagai tenaga praktisi di klinik maupun sebagai manajerial. Di masa depan, perawat pun diharapkan ada yang berkiprah di dunia legislatif dan pemerintahan, yang diharapkan mampu mengadvokasi segala kepentingan profesi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.